Kendala Petani Padi Dalam Menerapkan Sistem Padi Organik (Studi Kasus: Desa Damarwulan Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri)

Authors

  • Puji Setiono Universitas Kadiri
  • Eko Yuliarsha Sidhi Universitas Kadiri
  • Agustia Dwi Pamujiati Universitas Kadiri
  • Arissaryadin Arissaryadin Universitas Kadiri

DOI:

https://doi.org/10.30737/jintan.v4i1.5323

Keywords:

Barriers, farming, Organic farming

Abstract

This research aims to understand the implementation of organic rice farming in Damarwulan Village, Kepung District, Kediri Regency. This research involved the Ungkal Jaya Farmers Group in Damarwulan Village, Kepung District, Kediri Regency, which consisted of 38 farmers. In this group, 27 members use a conventional rice planting system, while 11 use an organic one. This research found that the average organic rice production per hectare was 6,698 kg for Harvested Dry Grain (GKP) and 5,655 kg for Milled Dry Grain (GKG). If farmers decide to process it into rice, they get around 4,354 kg of rice. Production costs incurred amounted to IDR20,688,409. The average income from organic rice farming in this research location is IDR19,366,286 for GKP, IDR21,586,822 for GKG, and IDR35,776,514 for rice. The research results also revealed several obstacles faced by farmers in cultivating organic rice, including (1) farmers' perception that organic farming is complicated because it requires special treatment, including the use of pesticide-free water, (2) the process takes time because the rice fields are contaminated by chemical residues and limited distribution of organic production facilities, (3) higher risk of pest and disease attacks, (4) market price uncertainty, and (5) expensive organic certification costs with a validity period of 3 years. Thus, organic rice cultivation has high-profit potential. However, farmers face various obstacles, such as the limited supply of organic resources, changes in farmer behavior patterns, the threat of plant pest organisms, and market uncertainty for organic rice.

 

Penelitian ini bertujuan untuk memahami implementasi pertanian padi organik di Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri. Penelitian ini melibatkan Kelompok Tani Ungkal Jaya di Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, yang terdiri dari 38 petani. Dalam kelompok ini, 27 anggota menerapkan sistem tanam padi konvensional, sementara 11 anggota menerapkan sistem tanam padi organik. Pada riset ini, ditemukan bahwa rata-rata produksi padi organik per hektar adalah 6.698 kg untuk Gabah Kering Panen (GKP) dan 5.655 kg untuk Gabah Kering Giling (GKG). Jika petani memutuskan untuk mengolahnya menjadi beras, mereka mendapatkan sekitar 4.354 kg beras. Biaya produksi yang dikeluarkan sebesar Rp20.688.409. Rata-rata pendapatan dari usahatani padi organik di lokasi penelitian ini adalah Rp19.366.286 untuk GKP, Rp21.586.822 untuk GKG, dan Rp35.776.514 untuk beras. Hasil penelitian juga mengungkapkan beberapa kendala yang dihadapi petani dalam budidaya padi organik, antara lain: (1) persepsi petani bahwa pertanian organik rumit karena memerlukan perlakuan khusus, termasuk penggunaan air bebas pestisida, (2) proses yang memakan waktu karena tercemarnya sawah oleh residu kimia dan keterbatasan sarana produksi organik yang merata, (3) risiko serangan hama dan penyakit yang lebih tinggi, (4) ketidakpastian harga pasar, dan (5) biaya sertifikasi organik yang mahal dengan masa berlaku selama 3 tahun. Dengan demikian, budidaya padi organik sebenarnya memiliki potensi keuntungan yang tinggi, namun petani dihadapkan pada berbagai kendala, seperti keterbatasan pasokan sumber daya organik, perubahan pola perilaku petani, ancaman organisme pengganggu tanaman, dan ketidakpastian pasar beras organik.

Author Biographies

Puji Setiono, Universitas Kadiri

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Eko Yuliarsha Sidhi, Universitas Kadiri

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Agustia Dwi Pamujiati, Universitas Kadiri

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, 

Arissaryadin Arissaryadin, Universitas Kadiri

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

References

Aminah, M., Hubeis, M., Widiatmaka, W., & Wijayanto, H. (2018). Obstacles Of Farmers Participation In Organik Rice Development In Tasikmalaya District. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 8(3), 330–338. https://doi.org/10.29244/jpsl.8.3.330-338

Anggita, A., & Suprehatin, S. (2020). Apakah Usahatani Padi Organik Lebih Menguntungkan? Bukti dari Desa Pringkasap Kabupaten Subang. Jurnal Ekonomi Pertanian Dan Agribisnis, 4(3), 576–592. https://doi.org/10.21776/ub.jepa.2020.004.03.12

Artini, W. (2017). Kebutuhan Petani Untuk Pengembangan Usahatani Padi Organik (Studi Kasus Terhadap Kelompok Petani Padi Organik di Kabupaten Kediri). Agrinika.

Charina, A., Andriani, R., & Deliana, Y. (2018). Dampak Penerapan Program Desa Organik Terhadap Petani Di Desa Cibodas Kabupaten Bandung Barat . MIMBAR AGRIBISNIS: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis, 4(1), 1–11.

Dewi, L., Ambarawati, A., & Budiasa, W. (2016). Strategi Pengembangan Agribisnis Beras Merah Organik di Subak Wongayabetan, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. JURNAL MANAJEMEN AGRIBISNIS (Journal Of Agribusiness Management), 4(1), 37–46.

Dwiastuty, A. R. N., Sadeli, A. H., -, S. F., & -, N. S. (2020). Strategi Pemasaran Beras Organik Di Gapoktan Simpatik Tasikmalaya. JURNAL MANAJEMEN AGRIBISNIS (Journal Of Agribusiness Management), 8(1), 1. https://doi.org/10.24843/jma.2020.v08.i01.p01

Hadi, S., Hazmi, M., Wijaya, I., Akhmadi, A. N., & Wahyudi, M. I. (2021). Optimizing Optimalisasi Ketersediaan Produk-produk Pertanian Berbasis Organik Farming Menuju Gaya Hidup Sehat melalui Sistem Pertanian Terpadu. Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(1), 94–105. https://doi.org/10.29244/agrokreatif.7.1.94-105

Kirana, F., & Nugraha, A. (2019). Dialektika Sistem Sertifikasi Pertanian Organik dan Gaya Bertani (Farming Styles) Petani Organik (studi kasus Semai Organik dan Eco Camp). Jurnal Agribisnis Dan Sosial Ekonomi Pertanian, 4(2), 1–12.

Mayrowani, H. (2012). The Development of Organik Agriculture in Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 30(2), 91–108.

Permatasari, P., Anantanyu, S., & Dewi, W. S. (2018). Pengaruh Tingkat Adopsi Budidaya Padi Organik terhadap Keberlanjutan Budidaya Padi Organik di Kabupaten Boyolali. Caraka Tani: Journal of Sustainable Agriculture, 33(2), 153. https://doi.org/10.20961/carakatani.v33i2.22296

Rachman, T. (2019). Produksi Padi Indonesia (Kementerian Pertanian Republik Indonesia). Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 10–27.

Rahmat, P. S. (2009). Penelitian Kualitatif. In Journal Equilibrium.

Suharyono, M. P. (2018). the Development of Organik Farming in Vietnam. Jurnal Kajian Wilayah, 9(1), 20. https://doi.org/10.14203/jkw.v9i1.783

Downloads

PlumX Metrics

Published

28-01-2024

How to Cite

Puji Setiono, Sidhi, E. Y., Pamujiati, A. D., & Arissaryadin, A. (2024). Kendala Petani Padi Dalam Menerapkan Sistem Padi Organik (Studi Kasus: Desa Damarwulan Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri). JINTAN : Jurnal Ilmiah Pertanian Nasional, 4(1), 44–51. https://doi.org/10.30737/jintan.v4i1.5323

Issue

Section

Articles

Most read articles by the same author(s)

1 2 > >>